Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘science’ Category

Rentetan gempa besar di pesisir barat Sumatera dan selatan Jawa meninggalkan misteri di Selat Sunda, yang terletak di antara kedua pulau itu. Ketika daerah lain sudah berderak dan berusaha menyeimbangkan diri dengan cara melepaskan energi impit-impitannya, palung di selat ini seperti diam dan terkunci.

Secara kasatmata, selat itu seperti “dilompati” begitu saja oleh rentetan gempa besar.

Dalam orasi ilmiah pengukuhannya sebagai profesor riset bidang geologi-geofisika, Jumat lalu, Deputi Kepala LIPI untuk Ilmu Pengetahuan Kebumian Hery Harjono menjelaskan bahwa Selat Sunda bukan sekadar perairan yang memisahkan Jawa dan Sumatera. Selat itu terletak pada perpindahan subduksi tegak lurus ke subduksi miring.

Diduga, lempeng Indo-Australia yang menghunjam di bawahnya mengalami deformasi sedemikian kuatnya sehingga jadi sobek. Kalaupun tidak sobek, lempeng yang menghunjam di bawah Selat Sunda dalam keadaan tertekuk dan menimbulkan kelurusan gempa berarah U50T (timur laut).

Selat Sunda dan sekitarnya mengalami ekstensi sebagai akibat pergerakan lempeng mikro Sumatera ke arah barat laut sejak masa Ogliosen Atas (28 juta tahun lalu). Diduga sebelum masa ini Jawa-Sumatra masih membentuk garis lurus atau tumbukan antar lempeng benua Indo-Australia dengan Eurasia di sepanjang palung Jawa-Sumatera yang masih tegak lurus.

Ekstensi menyebabkan penipisan kerak bumi dan menciptakan reservoir magma cukup besar di kedalaman lebih dari 20 kilometer di bawah kompleks Krakatau. Di atas reservoir itulah terdapat beberapa kantong magma yang dipasok lewat retakan-retakan.

Meski masih ada misteri di bagian palung, Hery menegaskan, secara umum Selat Sunda secara geologi sangat aktif oleh aktivitas kegempaan, gunung api, dan gerak tektonik penurunan yang cepat. Selat yang memiliki kedalaman tidak lebih dari 100 meter, kecuali di kompleks Krakatau yang bisa mencapai 200 meter, ini juga dihiasi morfologi graben alias lembah berarah utara-selatan, yang diperkirakan kelanjutan dari patahan Sumatera yang menerus sampai ke palung Jawa.

“Pembangunan mega-infrastruktur, seperti jembatan atau terowongan, di Selat Sunda tidak boleh mengabaikan kenyataan bahwa wilayah tersebut sangat aktif,” katanya.

(WURAGIL, Koran Tempo, 17 Nop.2009)

Read Full Post »