Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘green energy’ Category


Richard Blackburn (www.drive.com.au)
26 Oktober 2009

Toyota telah menciptakan jenis tumbuhan baru yang dirancang untuk mengimbangi CO2 yang diakibatkan oleh operasi perakitan mobil Prius .

Toyota telah menciptakan dua jenis bunga yang menyerap nitrogen oksida dan mengambil panas yang keluar ke atmosfer.
Bunga-bunga, yang merupakan persilangan tanaman ceri dan gardenia, yang khusus dikembangkan untuk lahan pabrik Toyota Prius di Toyota City, Jepang.
Daun hasil persilangan tanaman bunga-bunga tersebut memiliki karakteristik unik yang menyerap gas-gas berbahaya, sementara daun kacapiring membuat uap air di udara, mengurangi suhu permukaan yang mengelilingi pabrik, dan karena itu, mengurangi energi yang dibutuhkan untuk pendinginan, yang pada gilirannya menghasilkan lebih sedikit karbon dioksida (CO2 ).
Dua pabrik baru merupakan bagian dari rencana pengembangan untuk mengurangi dampak lingkungan dari pembuatan Toyota Prius . Sejak 1990, pabrik telah mengurangi emisi CO2 sebesar 55 persen.
Tempat penanaman bunga di Tsutsumi tersebut memiliki panel surya pada atap bangunannya untuk menghasilkan listrik dan cat khusus photocatalytic pada dinding luarnya untuk menyerap gas termasuk udara berbahaya NOx dan sulfur oksida (Sox).
Di dalam ruangan tempat penanaman, sebagian berkas cahaya yang dihasilkan oleh pantulan sinar matahari yang terfokus masuk ke ruangan, mengalih fungsikan lampu listrik, sementara suatu sensor gerakan yang sensitif akan mematikan lampu toilet ketika tidak digunakan. Ruangan sistem pendingin udara nyaman dijaga pada suhu 28 derajat di musim panas untuk mengurangi keluaran CO2 dan karyawan kerah putih diperbolehkan untuk mengenakan kemeja lengan pendek tanpa dasi untuk mengimbangi suhu kantor yang lebih hangat.
Bahkan dikembangkan secara khusus rumput yang tumbuh lebih lambat dari pada rumput konvensional, yang hanya membutuhkan pemotongannya sekali dalam setahun, dibandingkan dengan tiga kali untuk rumput biasa. Pada tahun 2008, Toyota menanam 50.000 pohon untuk mengimbangi emisi CO2 dari pabrik.
Toyota telah dikecam oleh para pesaingnya, yang mengklaim perusahaan Toyota Prius berbahan bakar bensin-listrik tidak sehijau kendaraan konvensional lainnya setelah proses manufaktur mobil diperhitungkan.
Kritikus mengklaim proses produksi Prius menciptakan lebih banyak CO2 daripada kendaraan bensin biasa.
Toyota mengakui bahwa proses produksi CO2 lebih intensif, namun dikatakan bahwa pada tahun pertama produksinya, Prius telah meniadakan defisit.
Perusahaan juga menyangkal bahwa inisiatif untuk mengurangi CO2 tersebut terkait dengan adanya kritik yang telah mereka terima sebelumnya terhadap mobil Toyota Prius hasil produk mereka.

(Lihat artikel aslinya…)

Read Full Post »


Provo Daily Herald (Voice of America ,Digital Journal Edmunds ‘Green Car Advisor)

Para peneliti di Universitas Brigham Young (BYU) belum lama ini telah mengembangkan sebuah sel bahan bakar – yang pada dasarnya adalah baterai dengan tangki gas – yang memanen energi listrik dari glukosa dan gula lain yang dikenal sebagai karbohidrat.

Tubuh manusia lebih menyukai sumber energi yang pada suatu hari nanti bisa memasok peralatan listrik, mobil atau rumah.

“Karbohidrat sangat kaya energi,” kata profesor kimia BYU Gerald Watt. “Yang kami butuhkan adalah sebuah katalis yang akan mengekstrak elektron dari glukosa dan mentransfernya ke elektroda.”

Solusi yang mengejutkan ternyata adalah berkat adanya gulma pembunuh yang umum kita kenal, seperti yang dilaporkan oleh Watt dan rekan-rekannya dalam Journal of The Electrochemical Society terbitan Oktober. Watt berbagi temuannya yang mengagumkan tersebut mengikuti nama besar paman buyutnya yaitu James Watt, seorang penemu mesin uap.

Efektivitas dari herbisida yang murah dan berlimpah ini adalah sesuatu yang menguntungkan karbohidrat yang berbasis sel bahan bakar. Sebaliknya, hidrogen berbasis sel bahan bakar seperti yang dikembangkan oleh General Motors membutuhkan bahan platinum yang mahal sebagai katalisnya.

Langkah berikutnya untuk tim BYU adalah meningkatkan daya listriknya melalui penyempurnaan desain.

Hasil penelitian melaporkan suatu percobaan yang menghasilkan tingkat konversi 29 persen, atau transformasi 7 dari 24 elektron yang tersedia per molekul glukosa.

“Kami ingin menunjukkan bahwa Anda dapat memperoleh lebih banyak glukosa daripada orang lain yang telah melakukan sebelumnya,” kata Dean Wheeler, penulis makalah dari fakultas dan profesor teknik kimia di Universitas Enjiniring dan Teknologi “Brigham Young’s Fulton College” “Sekarang kami sedang berusaha untuk mendapatkan daya kepadatan yang lebih tinggi sehingga teknologinya secara komersial akan lebih menarik.”

Sejak mereka menulis makalah, kinerja prototype penelitian mereka telah mencapai dua kali lipat lebih tinggi.

Sumber berita dari BYU News

Read Full Post »


Akhir Desember tahun 2008 lalu, Cina merencanakan membangun pembangkit listrik tenaga surya dari photovoltaic (PV) berkapasitas 1 GW, yang merupakan pembangkit listrik sel surya terbesar di dunia. Hanya saja beberapa waktu kemudian Amerika Serikat mengumumkan untuk membangun 1,3 GW. Gelar pun berpindah.

Tampaknya Cina tidak rela jika gelar sebagai negara dengan pembangkit listrik tenaga surya yang berbasi photovoltaic (PV) berpindah ke negara lain. Sebuah pembangkit yang kelak akan menghasilkan 2GW tengah direncanakan pemerintah Cina dan menjadi pembangkit listrik tenaga surya terbesar di dunia untuk saat ini.

Baca selengkapnya

Read Full Post »


Submitted by LiveScience Staff
posted: 21 September 2009 11:14 am ET

Researchers have shown the benefits of a new approach toward eliminating carbon-dioxide emissions at coal-burning power plants.

The system, called pressurized oxy-fuel combustion, separates the carbon-dioxide emissions produced by the burning of coal, in the form of a concentrated, pressurized liquid stream, from other emissions. This allows for carbon dioxide sequestration.

That means, in theory, the liquid CO2 stream could be injected into geological formations deep enough to prevent their escape into the atmosphere, a process other researchers say could work as a way to store the carbon for eons, thereby keeping it out of the atmosphere.

A paper describing the research, led by Ahmed Ghoniem at MIT, was published in August in the journal Energy. The Italian energy company ENEL, the sponsor of the research, plans to build a pilot plant in Italy using the technology in the next few years.

(Read full story at MIT )

Read Full Post »


Trees, in a word, rock. They absorb heat-trapping carbon dioxide, hold soil together to prevent landslides, and provide a rich habitat for diverse plants and animals. Choose furniture made from eco-friendly sources such as sustainably managed forests, bamboo, and reclaimed wood. Buying vintage wherever possible, rather than adding something new into the waste stream, is always in style. Also, look for furniture that is durable and likely long-lived-you’ll save money on replacements in the future and prevent more wasted materials from winding up in the landfill. And, if for some reason, that dresser or dining table no longer suits your needs, something in fine shape will always have takers via Craig’s List, eBay, or Freecycle.
(Read full story)

Read Full Post »

Ditulis oleh Suparni Setyowati Rahayu pada 11-09-2009

Biodiesel merupakan senyawa kimia sederhana dengan kandungan enam sampai tujuh macam ester asam lemak. Biodiesel didefinisikan sebagai metil ester dengan panjang rantai karbon antara 12 sampai 20 dari asam lemak turunan dari lipid contohnya minyak nabati atau lemak hewani. Minyak nabati atau lemak hewani dapat dibuat biodiesel dengan reaksi transesterifikasi dengan menggunakan alkohol.Komposisi dan sifat kimia dari biodiesel tergantung pada kemurnian, panjang pendek, derajat kejenuhan, dan struktur rantai alkil asam lemak penyusunnya.

Biodiesel merupakan bahan bakar alternatif dari sumber terbarukan (renewable), dengan komposisi ester asam lemak dari minyak nabati antara lain: minyak kelapa sawit, minyak kelapa, minyak jarak pagar, minyak biji kapuk, dan masih ada lebih dari 30 macam tumbuhan Indonesia yang potensial untuk dijadikan biodiesel.

See More..

Read Full Post »