JAKARTA – Staf Ahli Badan Kebijakan Fiskal Kemenkeu Singgih Riphat menjelaskan jika seharusnya subsidi untuk listrik yang berasal dari panas bumi (geothermal) lebih besar dibandingkan dengan subsidi listrik yang berasal dari bahan bakar minyak (BBM).

“Saya maunya subsidi untuk geothermal itu lebih besar daripada subsidi listrik dengan minyak,” katanya saat ditemui di sela “Green Investments Summit 2010″ di Grand Hyatt, Jakarta, Selasa (13/7/2010).
Lebih lanjut, ia mengatakan jika subsidi untuk listrik geothermal itu sudah ada dalam APBN tahun ini, yakni sudah termasuk ke dalam subsidi listrik secara keseluruhan. “Namun saya tidak tahu persis jumlahnya. Jadi intinya gini, semua listrik itu sudah disubsidi, termasuk geothermal,” paparnya.
Sekarang ini, dia menjelaskan jika pihaknya tengah dalam proses perhitungan besaran subsidi tersebut. Beberapa dari komponen perhitungan tersebut juga katanya sudah masuk dalam APBNP 2009.
“Jadi, misalnya harga yang harus dibeli pemerintah itu USD9,7 sen per kwh, nanti sampai ke masyarakat Rp500 per kwh misalnya, nanti bisa dibayar masyarakat Rp300 per kwh. Kalau yang seperti ini pasti segera. Kita ini kan unitnya baru, subsidi sedang dalam perhitungan. Pasti dapat subsidi, tapi seberapa besar, itu yang sedang dibicarakan. Paling tidak sebagian sudah masuk ke APBN 2011, tapi belum semua,” jelasnya.
Dia berharap, jika pada 2011 mendatang masalah subsidi ini sudah jelas, khusunya untuk listrik geothermal.
“Misalnya, geothermal yang sudah berproduksi nanti seberapa besar yang akan kita tanggung, mudah-mudahan tahun depan sudah bisa jelas. Bahkan, tahun yang sudah berjalan sekarang, kita kasih subsidi untuk alat-alat yang mengonversi dari pemakaian bensin ke gas, tapi kita belum tahu alatnya apa. Kita tanya ke Kementerian atau Lembaga, tapi belum tahu. PPN-nya ditanggung pemerintah. Misalnya, perusahaan membeli Rp10 juta, nanti kami beli seharga Rp6 juta, jadi mereka kan jadi mudah memakainya,” papar dia.(wdi)